Bidan Pun Bisa Bergelar Master

30 Jun 2013

Jangan pandang sebelah mata profesi seorang bidan. Di tengah tuntutan profesionalisme di setiap bidang, kemampuan dan ketrampilan seorang bidan pun juga bertambah. Bahkan tidak sedikit bidan yang bergelar master.

Bidan sebuah profesi penting dalam membantu meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia. Kehadiran bidan di tengah masyarakat terbukti tidak hanya mampu menolong ibu-ibu melahirkan dan mencegah angka kematian.

Profesi bidan selama ini dianggap paling dekat dengan kalangan menengah ke bawah. Mengingat pentingnya tugas dan fungsi bidan, perlu adanya suatu program pendidikan dan pembinaan pelayanan medis. Tidak berlebihan jika program pendidikan dan pembinaan ini dilakukan untuk mendukung peningkatan kualitas layanan bidan di masyarakat.

Sebagai upaya meningkatkan kualitas bidan di Indonesia, Asosiasi Pendidikan Kebidanan Indonesia (AIPKIND), asosiasi yang bernaung di bawah Ikatan Bidan Indonesia (IBI), bekerjasama dengan DKT Indonesia menyelenggarakan rapat kerja nasional pertama di Jakarta, 10-12 April 2013.

"AIPKIND adalah asosiasi yang dibentuk oleh Ikatan Bidan Indonesia pada 28 Oktober 2008. Misi kami adalah membantu dan mendorong institusi pendidikan kebidanan memenuhi standar nasional sehingga mampu bersaing secara global," jelas Sekretaris Jenderal AIPKIND Yetty Irawan dalam konferensi pers di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Pendidikan kebidanan di dunia sudah dimulai sejak 1851. Di Indonesia, perkembangannya sangat pesat sejak 1964. Menurut Yetty, saat ini Indonesia memiliki 729 institusi kebidanan yang berkualitas, jauh di atas 1996 yang jumlahnya hanya 327 institusi. Bahkan, saat ini sudah ada tiga universitas negeri yang menyelenggarakan pendidikan kebidanan untuk level S1 dan S2, yakni Universitas Brawijaya, Universitas Padjajaran, Universitas Hasanudin, dan Universitas Andalas.

"Asosiasi pendidikan kebidanan ini penting karena tujuannya adalah menyejahterakan ibu dan anak Indonesia. Dengan mempersiapkan bidan yang baik dan pengabdian yang tulus iklas, itu adalah aset negara. Melalui pendidikan ini, kita bisa menghasilkan bidan berkualitas," kata Ketua AIPKIND Jumiarni Illyas.

Melalui Rakernas ini, AIPKIND ingin merumuskan poin-poin dan standar penting yang harus dimiliki insitusi pendidikan kebidanan agar menjadi satu visi misi dalam menghasilkan bidan yang berkualitas di Indonesia.

Sebagai bentuk dukungan terhadap program pendidikan bidan, DKT Indonesia juga membuka Akademi Andalan. Tahun lalu, DKT dan IBI merancang program untuk menciptakan lulusan kebidanan yang tidak hanya terampil dalam pelayanan tapi juga mempunyai visi dalam melakukan tugasnya.

"Kami menyaring para mahasiswa kebidanan pada semester empat, kita pilih sesuai rekomendasi. Kami kemudian mendidik mereka di Akademi Andalan. Melalui program beasiswa ini, mereka kami panggil ke Jakarta untuk diberikan pelatihan-pelatihan soft skill terkait profesi mereka dan diberikan uang pendidikan US$ 1.000. Tahun lalu ada 18 orang mahasiswa," kata Country Director DKT Indonesia Todd Callahan. Bentuk dukungan lain DKT terhadap program kebidanan ini adalah adanya kegiatan capacity building pada 2008-2012 terhadap 50.000 bidan di Indonesia. Program tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan bidan dalam memberikan pelayanan kontrasepsi jangka panjang.

Guna mendukung kemampuan para bidan diselenggarakan kompetisi berupa poster presentation yang mengambil tema utama Strengthening Midwifery Education Nationaly to Improving Women's and Child's Health. Kurang lebih 40 peserta turut ambil bagian dalam kompetisi poster ini.

Terpilih sebagai juara pertama Rista Dewi Handayani (Univ. Brawijaya) mengangkat Judul Efektifitas Ekstrak Etanol Rimpang Kencur dalam Menghadapi Pertumbuhan Candida Albicans. Disusul juara kedua Agnestia Naning (Univ. Brawijaya) mengetengahkan Judul Pengaruh pemberian vitamin E terhadap kadar Hb. Maternal tikus yang dipapar dengan asap rokok sub akut. Juara ketiga diraih Ely Walimah (STIKES Respati Sumedang) mengambil Judul Hubungan antara konsumsi pangan (Protein dan Karbohidrat) dengan berat badan BMG di wilayah PKM Ganea Kabupaten Subang.

Sedangkan Harapan I diraih Emy Suryani (Poltekkes Surakarta) dengan judul Studi deskriptif waktu pengkleman tali pusat BBL dalam persalinan normal. Harapan II diraih Rusmini (Poltekkes Semarang) berjudul Penerapan terapi emosional effect taypping terhadap penurunan kecemasan ibu hamil

Para pemenang oleh DKT Indonesia melalui Andalan Alat Kontrasepsi memberikan hadiah berupa uang tunai sebesar , Pemenang I Rp 9.000.000.-, Pemenang II, Rp 7.000.000.- dan Pemenang III, Rp 5.000.000.-

Artikel Lainnya